Penjara menulis

Pernahkah terlintas di benak anda, mengapa orang-orang yang dipenjara (meski tidak semua) justru aktif dan produktif menulis? Buya Hamka misalnya, berhasil menuntaskan penulisan tafsir Al-Azhar justru saat ia tinggal di penjara selama dua tahun empat bulan. Ada pula AM Fatwa yang aktif menulis justru ketika dipenjara. Mungkin masih ada tokoh lain yang juga produktif menulis. Saya merasa ada benang merah antara penjara dan kekuatan menulis.

Tinggal di penjara memang tidak sebebas hidup di rumah sendiri. Kesepian mendorong orang mencari kegiatan lain yang dapat menghibur. Membaca—juga menulis—mungkin salah satunya.

Membaca dan menulis di penjara terasa lebih fokus lantaran tidak terganggu atau tergoda oleh kegiatan-kegiatan lain. Sementara orang-orang yang merasa bebas, punya banyak waktu luang, bekerja di rumah, terkadang susah untuk fokus dan menjadi produktif menulis.

Jadi inilah benang merahnya: FOKUS. Fokus itu menikmati apapun pekerjaan yang sedang dilakukan. Melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Fokus terkadang menjadi lebih sulit diperoleh ketika kita hidup dalam kebebasan.

Saya masih ingat bagaimana rasanya membaca dan menulis di “penjara”. Dulu sewaktu pertama kali merantau ke Balikpapan (Maret 2000), saya pernah tinggal di sebuah rumah tua di Jalan Sumbawa, di kawasan kompleks Pertamina Balikpapan. Rumah ini besar, model rumah peninggalan Belanda, punya banyak kamar, dikelilingi halaman berumput yang cukup luas.

Saya tinggal sendirian di salah satu kamar di bagian belakang. Tidak ada TV, radio, apalagi internet. Waktu itu internet sudah ada tapi belum marak seperti sekarang.

Saya jarang bergaul dengan orang lain. Satu-satunya hiburan yang bisa saya nikmati adalah buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan masjid di kawasan Lapangan Merdeka, tidak jauh dari situ.

Selain buku, saya suka membaca Kaltim Post dan Balikpapan Pos. Waktu itu seingat saya, membaca koran terasa nikmat sekali, berbeda dengan ketika saya sedang banyak kegiatan atau pekerjaan. Koran seperti menjadi teman yang baik, seolah mengerti bahwa saya sedang kesepian.

Lama membaca, terkadang bosan juga. Saya merenung, rebahan, dan terkadang sampai ketiduran di lantai. Membaca, tidur, dan membaca lagi. Kegiatan yang sama dilakukan berulang kali, meski awalnya menyenangkan, tetap saja membosankan.

Saya lantas iseng menulis, apa saja. Saya ngobrol dengan kertas, tentang kesedihan lantaran lama menganggur, soal kejengkelan dengan sikap seseorang, juga hal-hal lain yang terkadang nampak kurang begitu penting. Saya mendadak punya teman maya di seberang sana. Kami ngobrol lewat tulisan.

Di saat marah, saya tiba-tiba menjadi lancar menulis, menumpahkan semua kejengkelan saya. Setelah itu, puas sekali rasanya! Serasa ada beban yang lepas dari dalam, entah lepas ke mana.

Saya juga mendadak lancar bicara lewat tulisan ketika ada satu dua surat yang datang dari sahabat pena. Waktu itu belum ada Facebook, menulis surat masih menjadi kegiatan—bahkan hobi—yang menyenangkan bagi sebagian orang, terlebih mereka yang kesepian. Sewaktu menulis, saya seolah bisa mengerti dan merasakan apa yang dulu dialami oleh Kartini. Hidup terpenjara di rumahnya sendiri, tanpa kawan atau hiburan lain, selain surat-surat kepada para sahabatnya di negeri seberang. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s