Blog sebagai Alat Bantu Menulis

Selain sebagai ajang narsis aka pamer, blog sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan positif. Blog bisa menjadi alat bantu yang efektif untuk menulis. Berikut ini alasannya.

Pertama, blog adalah salah satu menu yang tersedia di “restoran” bernama internet. Orang yang sering (dan suka) menggunakan internet tentu sudah akrab dengan blog, meski sekadar membaca tulisan-tulisan orang. Lalu apa hubungannya?

Menulis di blog adalah menulis di internet, media yang disukai. Menulis di tempat yang disukai, apalagi menulis tentang sesuatu yang disenangi, tentu saja jauh lebih mudah dan menyenangkan. Kondisi hati yang riang gembira ketika menulis, lepas dari tekanan, kebosanan, dan segala macam perasaan negatif, tentu akan membuat menulis menjadi kegiatan yang lancar dan menyenangkan. Otak tenang, hati senang, tangan bekerja dengan ikhlas menulis apa yang diinginkan oleh hati dan pikiran.

Ketika menulis menggunakan program pengolah kata (OpenOffice, LibreOffice etc), yang terlintas di benak saya adalah saya harus menulis sesuatu yang panjang, juga serius. Ketika membuat dokumen baru, kita disodori halaman kosong seolah minta diisi. Bagi saya, halaman kosong, dan halaman-halaman lain yang juga kosong, seolah menuntut saya untuk terus menulis. Hal ini tentu sangat membosankan dan bisa mematikan minat untuk menulis, terlebih jika ternyata saya tidak siap dengan ide atau bahan tulisan panjang.

Sementara itu, menulis di blog—karena sifatnya online—serasa chatting, atau browsing. Rasanya lebih rileks dan menyenangkan. Bukan saja lantaran blog tidak menggunakan analogi kertas maya alias dokumen kosong layaknya aplikasi pengolah kata, tapi juga lantaran internet itu sendiri sudah cukup menyenangkan.

Kedua, blog merupakan media menulis yang interaktif. Penulis dan pembaca bisa saling berinteraksi, saling mengisi, saling bertukar pendapat melalui fitur komentar yang tersedia di bawah tulisan. Dengan demikian, penulis tidak hanya menuangkan gagasannya lewat tulisan dan kemudian berhenti. Pembaca pun bisa memberikan pendapat dan pandangannya perihal tulisan yang dimaksud. Dari sini lahir proses komunikasi yang akan memperbaiki kualitas tulisan dan ketrampilan menulis kedua belah pihak.

Respon positif dari pembaca akan membuat penulis bersemangat dan percaya diri untuk terus menulis. Sementara respon yang konstruktif akan membuat penulis berevolusi menjadi penulis yang lebih baik. Komentar pembaca terkadang juga bisa memunculkan ide-ide tulisan baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s