Menulis itu ternyata (tidak) gampang

Banyak orang bilang menulis itu gampang: tinggal duduk manis, pegang pena, lalu menulis. Sementara tak sedikit pula yang mengatakan sebaliknya. Meski sudah duduk berjam-jam, sudah meluangkan waktu khusus untuk menulis, tangan sudah menggenggam pena, laptop sudah menyala, namun tetap saja belum ada kalimat yang keluar. Belum ada tulisan yang ditulis.

Menulis bisa gampang, bisa juga tidak, tergantung pada banyak hal. Meski sering dianggap sepele, menulis bisa jadi pekerjaan yang susah dilakukan lantaran sejumlah alasan kendala berikut ini.

Tidak punya ide tulisan

Menulis hakikatnya sama seperti bicara alias ngobrol. Cuma bedanya, saat bicara yang keluar adalah suara. Sementara sewaktu menulis, yang keluar adalah aksara (tulisan).

Ngobrol tanpa ide atau bahan, hasilnya adalah obrolan kosong, omong-omong kosong alias ngelantur. Menulis tanpa ide, hasilnya ya cuma sekumpulan tulisan kosong, hampa, tanpa tujuan, tanpa makna.

Menulis juga ibarat bepergian. Kalau tidak tahu mau ke mana, kita tidak akan ke mana-mana. Kalau tidak tahu mau menulis apa, ya kemungkinan besar kita tidak akan menulis apa-apa. Saya bilang “kemungkinan besar”, artinya kemungkinan kecil tetap bisa menulis. Tapi ya itu tadi, tulisannya tidak bermakna alias kosong.

Lalu dari mana kita memperoleh ide tulisan?

Ya tergantung seberapa besar tingkat kepekaan “antena” anda menangkap “sinyal” ide yang beterbangan. Saya menggunakan kata “antena” dan “sinyal”, sebab proses menemukan ide tulisan mirip analogi antena televisi atau radio menangkap gelombang siaran. Kalau antena sensitif, tentu jumlah siaran yang bisa ditemukan semakin banyak.

Baiklah. Lalu di mana saya bisa menemukan ide? Bagaimana cara menangkapnya?

Hidup ini adalah sumber ide, sumber inspirasi. Hampir semua kegiatan dan kejadian yang kita alami bisa menjadi bahan tulisan. Misalnya, saat anda selalu bangun kesiangan, ini bisa menjadi bahan tulisan soal apa dan bagaimana cara jitu agar bangun pagi. Ketika malas mandi, ini juga bisa jadi bahan tulisan. Kenapa malas mandi? Kenapa harus mandi? Apa manfaatnya? dsb.

Ketika susah mendapat pekerjaan, ini juga bisa jadi bahan tulisan menarik. Kenapa kita butuh pekerjaan? Kerja di mana? Haruskah kerja di kantor? Saya sarjana, kenapa masih mengganggur?

Banyak ide yang bisa ditulis di sini. Prinsipnya, semua kejadian, semua masalah, pasti punya cerita. Bila dikemas dengan baik, tentu akan menjadi tulisan yang menarik.

Tidak punya bakat

Bakat sering dihubungkan dengan keahlian atau kemampuan seseorang melakukan sesuatu. Ketika kita mahir, maka kita disebut berbakat. Kalau tidak bisa—apalagi mahir—tentu disebut tidak berbakat.

Bakat juga menjadi salah satu faktor yang sering disalahkan ketika kita tidak bisa menulis. Ketika susah menulis, bakat dengan mudah menjadi kambing hitam atas ketidakmampuan kita menulis. Sebaliknya, orang yang mudah dan lancar menulis dengan mudah mendapat predikat penulis yang berbakat.

Tapi benarkah demikian? Benarkah bakat adalah mantra sakti di balik kemampuan kemahiran seseorang menulis? Andai benar bahwa bakat harus dimiliki untuk bisa menulis, lalu bagaimana nasib para penulis yang merasa tidak berbakat? Mmm… maksud saya orang-orang yang pekerjaannya memang menulis tapi tidak merasa berbakat, apalagi bercita-cita menjadi penulis.

Ini kisah nyata, saya tidak mengada-ada. Saya sering bertemu dengan orang-orang semacam ini: penulis-penulis yang lahir by accident, secara tidak sengaja; bukan pekerjaan atau profesi yang direncanakan atau dicita-citakan.

Belum ada (good) mood

Selain bakat, mood (suasana hati) juga sering menjadi alasan di balik kesulitan menulis. Menulis memang butuh suasana hati yang baik. Ketika hati sedang marah atau jengkel, tentu susah untuk menulis dengan baik. Bisa saja menulis dengan suasana hati seperti itu, namun yang keluar adalah tulisan yang penuh dengan amarah dan kejengkelan.

Meski demikian, kegiatan menulis seharusnya tidak perlu tergantung dengan suasana hati. Justru kita yang harus pandai mengatur dan mengendalikan hati agar selalu dalam keadaan baik dan kondusif untuk menulis. Ketika suasana hati sedang tidak enak, yang seharusnya dilakukan bukanlah berhenti menulis, melainkan membuat bagaimana suasana hati kembali menjadi enak. Upaya ini tentu saja sangat beragam, tergantung pada pribadi masing-masing.

Bagi yang suka mendengarkan musik, musik-musik favorit tentu bisa membuat hati kembali senang. Bagi yang suka nonton, film-film yang menarik tentu bisa membantu melupakan beban pikiran yang meresahkan. Lakukan apapun sepanjang itu mampu menumbuhkan kembali hasrat menulis.

Bukan sarjana bergelar

Writing is a kind of skill. It has nothing to do with college degree or fancy certificate.

Saya melihat persepsi menarik dalam masyarakat yang menganggap bahwa penulis haruslah seorang sarjana. Ketika ada penulis yang bukan lulusan sarjana, tidak punya gelar titel sarjana, maka ia dianggap tidak mampu menulis, tidak pantas menjadi penulis, dan—ini yang lebih parah—buku-buku karangannya serta-merta dianggap sebagai “buku sampah”. Benarkah demikian?

Saya merasa bahwa pemahaman ini muncul lantaran kita terbiasa hidup terjajah oleh “pola pikir karyawan” dalam waktu yang sangat lama. Seperti yang kita pahami, karyawan direkrut oleh perusahaan berdasarkan strata pendidikan yang tercermin dari gelar dan ijazah. Semakin tinggi jabatan yang diinginkan, semakin tinggi pula gelar dan strata pendidikan yang diperlukan. Gelar sarjana lazim menjadi standar ukuran kemampuan seseorang.

Padahal, menulis itu bukanlah pekerjaan kantoran, meski orang-orang kantoran pasti kadang-kadang menulis. Menulis adalah kegiatan kreatif yang tidak terkait langsung dengan strata, gelar dan simbol-simbol akademik. Saya bilang kegiatan kreatif, sebab sewaktu menulis, yang bekerja adalah kreativitas, otak (kanan dan kiri); BUKAN gelar dan titel sarjana, apalagi ijazah.

Saya setuju bahwa untuk bisa menulis memang membutuhkan ilmu, sebab menulis sejatinya adalah aktivitas berbagi ilmu lewat tulisan. Tulisan yang baik tentulah tulisan yang bermanfaat, menambah ilmu dan wawasan, mencerdaskan, mencerahkan, dan mampu menggerakkan. Menulis tanpa ilmu tentu sangat berbahaya dan menyesatkan.

Namun kurang bijak rasanya jika menganggap bahwa untuk menjadi orang berilmu yang kemudian dianggap pantas untuk menulis dan menjadi penulis haruslah seorang lulusan sarjana. Pasalnya, ilmu bukanlah dominasi kalangan akademisi. Ilmu bisa didapat dan dipelajari oleh siapapun tanpa harus menghabiskan waktu di bangku sekolah atau kuliah.

Andai benar bahwa orang yang dianggap pintar, berilmu, dan lantas pantas untuk menulis haruslah seorang lulusan sarjana, tentu negeri ini sedari dulu sudah dikenal dengan sebutan negeri 5 menara “negeri para penulis”. Sebab, bukankah setiap tahun lahir ribuan sarjana baru?

Andai benar hanya kaum sarjana yang pantas menulis, tentu negeri ini sudah tenggelam oleh banjir buku setiap tahun. Bukankah setiap sarjana adalah penulis? Lalu ke mana larinya para sarjana itu?

Sekali lagi. Andai benar bahwa untuk bisa menulis haruslah lulus sarjana, lalu bagaimana dengan kisah para penulis cilik itu?

Baiklah, baiklah. Lalu bagaimana? Haruskah saya melepas gelar titel sarjana agar bisa menulis?

Ya bukan begitu. Gelar sarjana tetap patut disyukuri, bukan lantas dibuang laksana sampah. Meraih gelar sarjana butuh waktu dan banyak biaya, tidak semua orang beruntung bisa mendapatkannya. Lagi pula, seandainya dibuang pun belum tentu membuat anda mendadak bisa dan lancar menulis.

Menulis bukanlah soal punya atau tak punya gelar. Menulis juga bukan soal buang-membuang gelar. Menulis adalah soal menulis, menuangkan ide-gagasan-pemikiran lewat tulisan. Writing has nothing to do with college degree or fancy certificate.

Bukan orang pintar

Saya tertawa membaca “orang pintar”. Seketika yang terbayang di benak saya adalah sosok berkumis tebal berpakaian hitam-hitam duduk di samping pak kusir di depan tungku berasap putih ala sinetron. Padahal yang saya maksud di sini adalah orang yang betul-betul pintar, bukan orang pintar yang itu.

Baiklah, kembali fokus soal pintar. Kepintaran, kepandaian, juga sering disalahkan sebagai penyebab tidak bisa menulis. Menulis memang butuh kepintaran, butuh kepandaian. Menulis tanpa dua hal itu juga bisa berbahaya dan menyesatkan, sama bahayanya dengan menulis tanpa ilmu.

Lalu haruskah kita menyandang predikat pintar level sekian baru kemudian menulis?

Ya, tidak juga. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, meski anda merasa bukan orang pintar level sekian. Kalau anda sibuk mengejar tingkat kepintaran hingga level tertinggi baru kemudian menulis, yang terjadi adalah anda tidak akan pernah menulis. Bukankah banyak orang pintar yang tidak menulis? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s