Menemukan kembali semangat menulis

Salah satu hal yang kerap menjadi kendala ketika mulai menulis adalah tidak tahu pasti apa yang mau ditulis. Meski tangan sudah memegang pena, jari-jari sudah di atas keyboard, kata atau kalimat pertama belum juga muncul. Lalu bagaimana?

Kesulitan menemukan ide tulisan dan menuangkannya ke dalam tulisan bisa jadi erat kaitannya dengan kegiatan membaca. Artinya, kebuntuan dalam menulis mungkin merupakan cerminan dari kebiasaan membaca yang kurang memadai.

Membaca di sini memiliki dua pengertian. Pertama, membaca secara harfiah, artinya betul-betul membaca bahan bacaan, misalnya surat kabar. Seperti yang kita pahami, membaca hakikatnya merupakan tahap menyerap wawasan dan pengetahuan untuk kemudian diendapkan di dalam otak. Ketika kita menulis, ide-ide tulisan bisa digali dari dasar ingatan, atau justru muncul dengan sendirinya.

Kedua, membaca juga bisa berarti “membaca” (dalam tanda kutip) keadaan lingkungan, alias banyak melakukan pengamatan. Pengamatan yang saya maksud di sini tentu saja bukan seperti pengamatan ala mata-mata perang, melainkan banyak melihat, menyimak perkembangan berita, lingkungan, persoalan kehidupan, isu sosial, dsb. Kita harus pandai mengasah kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Makna pengamatan yang kedua ini tentu saja menuntut kita untuk hidup secara aktif, banyak berinteraksi, tidak diam saja (meski diam itu pun termasuk sebuah aktivitas).

Kemampuan dan kelincahan menangkap ide dan menuliskannya memang berkaitan erat dengan kegiatan membaca, baik secara harfiah maupun non-harfiah. Saya menyadari, ketika saya enggan membaca karena suatu hal, otak saya seakan juga ikut berhenti bekerja, kurang gesit, kurang lincah untuk menulis. Begitu pula ketika saya banyak berdiam diri, kurang berinteraksi dengan lingkungan sosial, kurang beraktifitas secara fisik, hampir dipastikan otak saya menjadi beku.

Sebaliknya, ketika saya banyak membaca, meski itu cuma surat kabar harian, sering kali muncul ide-ide tulisan baru. Ide-ide itu bisa tentang apa saja, dan bisa muncul kapan saja, baik seketika itu, maupun nanti ketika saya sudah selesai membaca. Demikian juga, ketika suatu ketika saya secara tidak sengaja berada dalam sebuah kesibukan yang menuntut banyak interaksi dengan lingkungan luar, saya sering mendapat hujan ide.

Jadi, jika sekarang Anda masih kesulitan membuka sebuah tulisan, lakukan kegiatan lain di luar kebiasaan Anda. Banyaklah membaca, juga berinteraksi dengan lingkungan. Jika tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan, cobalah berolah raga. Peluh yang menetes di wajah dan tubuh Anda karena terik matahari mampu membakar semangat, mencairkan otak yang beku, dan melenturkan kembali syaraf-syaraf menulis di jari-jari Anda.

Percaya atau tidak, pikiran akan lebih terbuka, dan ide-ide baru lebih sering bermunculan manakala kita berkeringat (bukan keringat dingin, tentu saja). Jika tidak percaya, silakan dicoba. Jika ternyata tidak sesuai, setidaknya ini yang pernah saya rasakan…

Selamat menulis kembali…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s