Menulis adalah anugerah

Rasanya tidak berlebihan jika saya bilang bahwa kemampuan menulis adalah anugerah. Sebab, menulis memang adalah sebuah anugerah, sebuah pemberian, dari Yang Maha Pencipta, kepada kita manusia.

Banyak orang mengeluh menulis itu susah. Banyak orang terobsesi menjadi penulis, namun impiannya kandas di tengah jalan. Berbagai kursus, workshop, dan pelatihan menulis sudah diikuti, namun tulisan pertama tidak kunjung muncul. Sudah sering berusaha menulis, namun selalu saja merasa susah, tulisannya tidak enak, dan kemudian memvonis tidak berbakat menulis.

Sementara itu di sisi lain, kita juga sering melihat atau membaca pengalaman orang-orang yang dengan mudah menulis dan kemudian meniti karir sebagai penulis. Menulis bagi mereka serasa ngobrol saja. Kemampuan itu seakan lahir begitu saja, tanpa harus melalui kursus, workshop, pelatihan, atau sekolah menulis formal.

Ada orang yang mudah menulis, ada yang tidak. Inilah kenapa saya bilang bahwa menulis adalah sebuah anugrah, sebuah pemberian. Dan pemberian, sebagaimana kita paham, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Salah satu bentuk syukur terkait dengan kemampuan menulis adalah dengan terus menulis. Menulis tulisan yang baik dan bermanfaat, mencerdaskan, mencerahkan, menggerakkan, menginspirasi banyak orang.

Kemampuan menulis tentu bisa berkurang—bahkan hilang—jika tidak disyukuri, tidak digunakan dan diasah sebagaimana mestinya dalam waktu yang lama. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s