Menggagas Sekolah Menulis Nasional

Sedikit menyoal kembali kehebohan yang sempat muncul di media massa beberapa waktu lalu terkait dengan wacana wajib publikasi bagi lulusan sarjana. Kasus ini mungkin sudah basi, namun sebenarnya masih ada hal menarik yang patut dicermati. Terlepas dari persoalan teknis di balik penolakan-penolakan berbagai pihak yang merasa keberatan dengan wacana tersebut, saya sebagai orang awam justru menangkap bahwa kekhawatiran kuat yang menjadi alasan di balik semua itu adalah soal menulis.

Membuat publikasi ilmiah erat kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Menulis terasa susah lantaran kita tidak terbiasa menulis, meski hidup di lingkungan akademisi. Menulis belum menjadi sebuah kebiasaan, apalagi budaya.

Seandainya kegiatan menulis sudah membumi di kalangan akademisi, tentu wacana wajib publikasi ilmiah tempo hari tidak menjadi sebuah momok yang menakutkan dan kemudian ditolak dengan berbagai alasan. Sebaliknya, wacana tersebut justru menjadi sebuah peluang pembuktian kemampuan diri sekaligus tantangan untuk meningkatkan kualitas lulusan lewat kegiatan menulis.

Penolakan wacana publikasi yang justru muncul dari kalangan akademisi adalah sebuah ironi. Kasus ini mungkin merupakan potongan kecil potret dunia pendidikan di negeri ini. Pendidikan yang banyak dikejar-kejar oleh anak negri, yang kemudian justru mencampakkan lulusannya ke dalam kubangan pengangguran. Pendidikan yang hanya menebar mimpi dan status, tanpa peduli dengan esensi pendidikan itu sendiri.

Berkaca dari kasus di atas, mungkin ini saat yang tepat untuk membudayakan kegiatan menulis melalui sebuah lembaga pendidikan formal, yaitu sekolah menulis nasional. Tujuannya ada dua. Pertama, mengatasi kesenjangan kemampuan menulis di kalangan mahasiswa, atau masyarakat pada umumnya. Kedua, memberi fasilitas dan kesempatan bagi masyarakat yang memiliki minat (dan bakat) pada bidang kepenulisan.

Sekolah ini tidak hanya mengajarkan soal menulis non-fiksi, namun juga fiksi. Masing-masing bidang—fiksi dan non-fiksi—dibuat sebagai jurusan tersendiri, dan masing-masing jurusan tersebut memiliki program studi sendiri-sendiri. Misalnya, jurusan non-fiksi, di dalamnya terdapat program studi menulis buku, penulisan artikel, dsb. Sementara jurusan fiksi memiliki program studi cerpen, novel, dsb.

Para pengajar untuk masing-masing program studi bisa berasal dari kalangan praktisi di bidang yang relevan. Misalnya, untuk program studi cerpen, pengajarnya adalah para cerpenis yang populer. Untuk penulis buku non-fiksi, dosennya adalah para penulis buku yang bestseller dan populer. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori, namun juga ilmu praktis langsung dari para ahlinya. Para dosen—yang sekaligus praktisi ini—bisa berbagi tip seputar dunia menulis, seperti bagaimana mulai menulis, bagaimana menemukan ide, bagaimana cara mengembangkan tulisan, bagaimana menembus penerbit, bagaimana cara menjadi penulis bestseller, dsb.

Tugas-tugas perkuliahan dan sistem penilaiannya juga dibuat lebih menarik. Mahasiswa tidak diminta untuk membuat dan mengumpulkan tugas seperti biasa, namun diwajibkan untuk mempublikasikannya ke dalam media formal. Misalnya, untuk tugas menulis artikel, mahasiswa diminta mengirimkannya ke media massa, baik nasional maupun lokal. Bagi mahasiswa yang karyanya berhasil dimuat di media nasional akan mendapat nilai A. Untuk karya yang dimuat di koran lokal mendapat nilai B. Sementara untuk karya yang belum dimuat, mendapat nilai C.

Demikian pula untuk tugas-tugas lain, seperti menulis cerpen, membuat resensi buku, dsb, semuanya harus dikirim dan dimuat di media massa. Cara seperti ini diharapkan semakin memotivasi para mahasiswa untuk menulis dan menghasilkan tulisan yang terbaik. Sistem seperti ini pula yang kemudian membentuk karakter dan jiwa penulis yang selalu berusaha menuliskan yang terbaik.

Di akhir masa pendidikan, wisuda mahasiswa juga dilakukan dengan cara yang unik. Penghargaan yang diberikan tidak hanya berupa selembar ijasah dan gelar penulis, namun juga karya-karya tulis dan publikasi yang berhasil dibuat. Inilah arti ijasah yang sebenarnya.

Selain itu, ada pula bonus khusus berupa insentif yang dapat mendukung kegiatan menulis. Bonus di sini bukan dan tidak selalu berupa uang, namun bisa berupa fasilitas. Misalnya, lulusan terbaik mendapat fasilitas gratis pencetakan dan penerbitan sepuluh judul buku. Fasilitas ini bisa berasal dari dana sekolah yang kemudian bekerja sama dengan penerbit dan percetakan, atau bisa juga berasal dari penerbit dan percetakan lansung yang menjadi sponsor.

Penghargaan semacam ini rasanya lebih mengena dan pas dengan visi dan misi sekolah. Setiap lulusan diharapkan selalu termotivasi untuk terus menulis dan menghasilkan karya tulis yang berkualitas dan bermanfaat. Jika setiap tahun lahir penulis-penulis baru, diharapkan setiap tahun pula muncul karya-karya tulis baru. Dengan demikian kita tidak perlu lagi minder dan mengeluh soal minimnya jumlah judul buku setiap tahun di negeri ini. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s