Benarkah Menulis Itu Susah?

Salah satu pertanyaan yang sering kali saya dengar adalah apakah benar menulis itu susah. Bagi saya, agak susah menjelaskan secara fair apakah memang menulis itu susah, sebab jawabannya bisa sangat subjektif. Bagi yang suka dan terbiasa, menulis tentu perkara yang mudah. Namun sebaliknya, bagi yang belum terbiasa, menulis bukan hanya susah namun juga menyusahkan (bahkan menakutkan).

Menulis—menurut hemat saya—adalah sebuah seni dan keterampilan mengolah kata. Dan keterampilan erat kaitannya dengan pembiasaan. Kegiatan yang terus dilakukan secara berulang-ulang akan membuat kita terbiasa. Kebiasaan yang terus diasah akan melahirkan keahlian.

Demikian pula dengan menulis. Menulis hakikatnya adalah sebuah keterampilan, sama seperti berbicara. Bedanya, ketika kita bicara, yang keluar adalah suara (voice) yang bisa dipahami. Sementara ketika menulis, yang “berbicara” tentu saja bukan suara, melainkan tulisan (aksara) yang kemudian dibaca dan dipahami.

Kita terampil berbicara karena memang bahasa pertama yang dikenal sejak kecil adalah bahasa verbal. Coba kita ingat lagi masa-masa kecil dulu. Kalau sudah tidak ingat, ya setidaknya coba amati lingkungan keluarga dan masyarakat kita. Sejak bayi masih dalam kandungan, si ibu sudah sering mengajak bicara pada si jabang bayi, seolah-olah ia paham apa yang disampaikannya. Soal ini tentu saja di luar pengetahuan saya, apakah memang bayi dalam kandungan sudah bisa mendengar.

Ketika balita, anak-anak lebih senang ngobrol dengan teman sebayanya. Bahasa tulisan baru dikenal ketika mulai belajar baca-tulis di sekolah.

Ketika kegiatan baca-tulis sudah dikenal, menulis ternyata tidak lantas menjadi kegiatan yang mudah dilakukan. Bahasa verbal masih lebih mudah dilakukan. Entah mengapa demikian. Konon kabarnya (versi guyonan), ini karena mulut lebih dekat dengan kepala (otak) dibandingkan tangan. Sekali lagi ini konon, belum tentu benar. Andaipun benar demikian, tentu tidak bisa ditukar begitu saja untuk mendapatkan keahlian yang sebaliknya. Ini bukanlah persoalan anatomi atau posisi, melainkan lebih kepada kebiasaan.

Kalau bicara adalah sesuatu yang biasa buat kita, maka menulis pun seharusnya bisa menjadi hal biasa jika kita mau melakukannya. Lalu bagaimana caranya? Bagaimana agar menulis menjadi sebuah kebiasaan?

Jawabannya: bicaralah lewat tulisan. Tulislah apa yang ingin disampaikan. Menulislah seolah-olah kita sedang bicara dengan seseorang. Dengan demikian kita bisa menulis serasa ngobrol langsung dengannya, namun yang keluar adalah tulisan.

Biasakan menulis sesuatu lewat tulisan. Ketika sedang kecewa, tulislah. Ketika senang, tulis lagi. Ketika terpikir sesuatu, cepat-cepat ditulis, meski hanya ide dasar atau judulnya. Ketika mengalami kejadian menarik dan ingin ditulis, ya tulis saja. Tulis saja semua apa adanya, tidak perlu khawatir bagaimana bentuk tulisan itu nanti. Setelah tiba di rumah, buka laptop dan tulislah selengkapnya.

Untuk menangkap ide-ide tulisan, saya biasa membawa selembar kertas A4 dan sebuah pulpen 4 warna. Kertas dilipat dua (menjadi ukuran A5), lalu dilipat lagi dua (seukuran A6) sehingga muat di saku baju. Lalu kenapa pulpen mesti 4 warna. Saya suka corat-coret dengan warna. Warna membuat pikiran lebih terbuka.

Soal pembiasaan menulis di sini tentu saja tidak bermaksud mengesampingkan komunikasi verbal, hanya berusaha menyamakan porsi bahasa tulisan dan bahasa verbal. Meski sedang giat berlatih menulis, kita tetap bicara dengan orang lain dalam bahasa lisan sebagaimana biasa. Jika menulis sudah terlanjur asyik, saya justru khawatir kemampuan verbal nanti bisa hilang, dan Anda akan dicap sebagai (maaf) orang (sekali lagi maaf) bisu.

Soal kehilangan kemampuan verbal itu bukan mustahil. Saya sendiri merasakan bahwa kemampuan bahasa verbal MEMANG bisa berkurang—bahkan hilang—perlahan-lahan lantaran lama tidak digunakan. Begini ceritanya.

Dulu saya fasih sekali berbahasa Inggris. Serasa bule atau native speaker lah waktu bicara. Selain Inggris, saya pernah juga dapat pelajaran bahasa Perancis dan Jepang. Namun karena lama tidak digunakan, pelan-pelan kemampuan itu berkurang. Saya kehilangan cadangan kosakata (vocabulary) perlahan-lahan, dan akhirnya susah ngomong. Sesuatu yang sangat saya sayangkan. Untungnya kemampuan bahasa Inggris pasif (tulis-menulis) masih ada.

Kembali soal menulis. Kenapa di awal tadi menulis bisa menjadi susah dan bahkan menyusahkan? Bagaimana agar terampil menulis? Apa saja yang bisa ditulis? Menulis di mana? Bagaimana mengawali sebuah tulisan?

(Besambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s