Nona Misterius

Suatu hari istri saya mampir ke bank untuk mencetak rekening di buku tabungan. Ini sebenarnya rutinitas biasa setiap awal atau akhir bulan. Yang menjadi terasa tidak biasa adalah si mbak customer service di sana. Sambil menunggu antrian mencetak, mbak ini ngobrol ringan. Entah kenapa, tiba-tiba ia menyarankan untuk membuka rekening tabungan haji. Katanya setoran awalnya tidak banyak, cukup Rp500 ribu saja. Selanjutnya bisa diisi sebisanya, tanpa batasan nominal tertentu. Jika jumlah uang di tabungan sudah mencukupi untuk mendaftar, pihak bank akan memberi kabar dan membantu proses pendaftaran ke Depag (sekarang Kemenag).

Sepulang dari bank, istri saya cerita. Saya cuma mengangguk-angguk, sesekali mengiyakan, mendengar ceritanya.

Soal haji saat itu belum pernah terlintas di benak saya. Maklum saja, seperti alasan klasik orang-orang, uang dari mana? Jujur saja, agak susah bagi saya waktu itu membayangkan segepok uang senilai puluhan juta rupiah untuk ongkos naik haji. Dari mana bisa dapat uang sebesar itu? Sedangkan penghasilan saya waktu itu tidak menentu. Saya bukan pekerja kantoran yang tiap awal bulan pasti gajian. Saya cuma penulis amatiran yang “mengandalkan” royalti yang jumlahnya tidak seberapa. Itupun datangnya setahun dua kali. Itupun masih ditambah fakta bahwa saya bukanlah penulis produktif, tidak seperti kolega saya yang mampu menerbitkan dua judul buku setiap bulan selama setahun penuh, selama sekian tahun ke depan! Artinya, penghasilan saya memang tidak besar. Juga tidak rutin. Jauh dari tipikal orang yang mampu untuk naik haji.

Sementara istri saya hanya seorang pegawai biasa. Penghasilannya memang bisa dibilang lebih baik dari saya. Meski demikian, tetap saja kami jauh dari tipikal orang-orang kaya yang bisa naik haji.

Cukup lama kami ngobrol soal itu. Ada rasa senang, haru, surprise, sedih, bingung, semua campur aduk. Senang mendengar kabar soal haji, sesuatu yang belum pernah terlintas di benak kami saat itu. Senang lantaran kabar soal haji itu serasa sebuah “undangan” khusus dari Allah SWT kepada kami, padahal kami merasa bukan orang kaya dan mampu secara finansial. Kami juga merasa belum pantas untuk berangkat haji. Haru dan surprise, karena kabar ini begitu tiba-tiba, dan datang dari orang yang tidak disangka-sangka (menurut istri saya, ia belum pernah bertemu si mbak CS itu. Mungkin karyawan baru.). Sedih dan bingung, tentu saja, sebab lagi-lagi kami bukan orang kaya. Dari mana uang untuk daftar haji? Berapa lama bisa terkumpul jika kami cuma bisa menabung seratus dua ratus ribu rupiah, itupun belum tentu rutin setiap bulan. Kalau begini caranya, kapan kami bisa berangkat?

Keesokan harinya, kami berdua kembali ke bank. Dengan modal uang satu juta rupiah, kami sepakat membuka dua rekening haji, untuk saya dan istri saya. Kami bertemu kembali dengan si mbak CS tempo hari. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar.

Sebelum pulang, mbak CS memberi souvenir sepasang mug putih berlogo. Istri saya senang sekali. Bukan lantaran mug itu, tapi karena sebersit perasaan yang, entah bagaimana, serasa besok sudah mau berangkat. Padahal, manasik saja belum. Uang juga belum ada. Tapi, begitulah…, ajaib. Tanah suci serasa sudah di pelupuk mata. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s